ErakiniNews.Id| Lombok Barat, 20 Agustus 2026 - Sebuah inovasi pemberdayaan masyarakat pesisir yang menggabungkan keberlanjutan lingkungan dan peningkatan ekonomi keluarga tengah berkembang pesat di Desa Kuranji Lombok Barat. Melalui program yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMENDIKBUDRISTEK) Tahun 2026 melalui Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, kelompok wanita nelayan di desa ini berhasil mengubah lahan pekarangan mereka menjadi pusat hortikultura dengan memanfaatkan pupuk organik cair (POC) dari limbah ikan laut.
Ketua tim PKM, Eko Supriastuti, SP., M.Si., yang merupakan Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian dari Universitas Mataram (UNRAM), menjelaskan bahwa inovasi ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan tetapi juga mengatasi masalah limbah yang selama ini mencemari lingkungan pesisir.
“Kami mengolah limbah ikan seperti jeroan, insang, dan kepala ikan melalui proses fermentasi anaerobik menjadi pupuk cair yang kaya akan N, P, K, serta asam amino alami. Ini menjadi solusi praktis dan ramah lingkungan,” jelas Tuti.
Dalam wawancara terpisah, Sri Mulyawati, SE., MM., yang juga Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UNRAM, menambahkan bahwa program ini memiliki dampak positif yang luas. “Selain meningkatkan produktivitas lahan pekarangan, program ini juga membantu keluarga nelayan menghemat pengeluaran dapur dan menambah sumber penghasilan melalui penjualan hasil panen,” ujar Sri.
Sementara itu, Dewi Seprianingsih, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Cordova Sumbawa Barat, menekankan bahwa teknologi pengolahan limbah ikan menjadi POC merupakan langkah tepat berbasis sumber daya lokal.
“Teknologi ini sederhana, tepat guna, dan mudah dipahami masyarakat, sehingga mereka dapat melanjutkan secara mandiri,” ungkap Dewi.
Program ini melibatkan tim mahasiswa dari kedua institusi dan masyarakat setempat dalam kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan praktik langsung. Melalui pendekatan ini, mitra kelompok wanita nelayan di Desa Kuranji mampu mengelola lahan pekarangan secara optimal, memperluas diversifikasi tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan terong, serta memanfaatkan POC sebagai input organik untuk meningkatkan hasil.
Dampak dari inovasi ini tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Seperti yang dirasakan Sahni, salah seorang wanita pesisir yang menjadi sasaran penerima manfaat dari kegiatan ini mengaku keluarga nelayan kini memiliki akses langsung ke sayuran segar, mengurangi ketergantungan pada pasar, serta menjaga kebersihan lingkungan dari limbah ikan yang sebelumnya mencemari sekitar.
“Lahan pekarangan yang tadinya tidak produktif kini menjadi sumber penghasilan dan gizi keluarga”, lanjut Sahni.
Keberhasilan program ini menjadi contoh nyata pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular di wilayah pesisir. Dengan penguatan kelembagaan dan perluasan pemasaran, kegiatan ini berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kedepannya, mitra masyarakat pesisir berharap program ini dapat diperluas dan Tim PKM berkomitmen untuk terus mendukung serta mendampingi agar dapat berkembang menjadi usaha produktif yang mampu memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir secara umum. Inovasi ini membuktikan bahwa sumber daya lokal, bila dikelola dengan baik dan inovatif, mampu menjadi solusi tepat untuk tantangan lingkungan dan ekonomi di wilayah pesisir Lombok dan yang dapat diterapkan secara nasional.
(Ria)




Social Footer