![]() |
| Tradisi Ngansor Gegadang |
Tradisi yang kental dengan makna kehidupan, perekat sosial, serta upaya pelestarian lingkungan ini kembali diselenggarakan oleh komunitas masyarakat adat Desa Tetebatu pada Kamis (29/10).
Acara yang dipimpin oleh tokoh adat Amaq Sukirman ini diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, peternak, seniman, pemuda, pelajar, hingga akademisi.
Rangkaian acara diawali dengan musyawarah antara tokoh adat dan komunitas masyarakat untuk menentukan waktu pelaksanaan, kebutuhan biaya, hingga daftar tamu undangan.
Pada hari pelaksanaan, kaum wanita menyiapkan berbagai kebutuhan adat, seperti sajian makanan yang dibawa dalam dulang serta rerakian untuk prosesi Beraki.
Setelah seluruh persiapan rampung, rombongan warga berangkat bersama-sama menuju Mata Air Lingsar dengan diiringi alunan musik tradisional Gendang Beleq.
Setibanya di lokasi, kegiatan dibuka dengan sambutan dari anggota DPRD Provinsi, Raden Rahadian. Ia mengapresiasi partisipasi masyarakat yang secara sadar dan sukarela melestarikan tradisi leluhur.
Menurutnya, Ngansor Gegadang menjadi media efektif untuk memperkuat silaturahmi dan hubungan kekeluargaan.
Amaq Sukirman menjelaskan bahwa Ngansor Gegadang merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian dan peternakan selama setahun, sekaligus bentuk pembersihan harta benda melalui sedekah.
"Makna yang lebih dalam dari tradisi ini adalah pembersihan diri dari segala gadang (gatal), yaitu kesalahan atau tindakan tidak baik yang pernah dilakukan selama setahun, seperti menggunjing atau berkata tidak jujur," ujar Amaq Sukirman.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi Beraki, yaitu tokoh adat mengusap kepala warga satu per satu menggunakan rerakian. Warga yang telah mengikuti prosesi tersebut kemudian membersihkan diri di Mata Air Lingsar.
Tradisi Ngansor Gegadang diakhiri dengan doa bersama dan makan bersama dari dulang yang telah disiapkan.
Lebih dari sekadar ritual adat, Ngansor Gegadang menjadi pengingat bahwa harmoni kehidupan tumbuh dari rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan Tetebatu sebagai desa wisata, tradisi ini diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat dalam menjaga hubungan yang selaras antara manusia, sesama, dan lingkungan.
(RIA)


Social Footer